Slider our story
Tentang
Perkebunan Kami
slide
Tentang
Perkebunan Kami

TENTANG PERKEBUNAN KAMI

Perkebunan Kopi Tugu Kawisari terletak di lereng Gunung Kelud yang legendaris tidak jauh dari Kota Blitar, Jawa Timur, sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Meliputi hampir 900 hektar tanah yang subur nan gembur serta dikelilingi oleh ribuan hektar hutan lindung lainnya disepanjang mata memandang, dengan air terjun dan sungai-sungai dari air pegunungan yang jernih mengalir melalui hulu melintasi perkebunan kopi dan sawah hijau yang terhampar seperti zamrud, dengan pemandangan yang menakjubkan dan lanskap yang benar-benar dramatis.

img1830
SEJARAH KAWISARI
1830
1830
Pada tahun 1830, pemerintah Belanda memberlakukan sistem baru Tanam Paksa (Cultuur stelsel) di bawah komando Gubernur Jenderal van den Bosch pada tahun 1830-1835. Pada saat itu, Belanda menuntut 20% dari tanah rakyat untuk ditanami komoditas ekspor (kopi, gula, lada), menggantikan tanaman tradisional seperti padi, singkong & jagung. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki tanah, mereka harus menjadi pekerja paksa di ladang milik pemerintah selama 66 hari dalam setahun.

Namun, pejabat lokal di wilayah itu secara tidak sah memaksa para petani pemilik tanah untuk menanam seluruh perkebunan mereka untuk komoditas ekspor dan hasil panen harus dijual kepada pemerintah Belanda dengan harga murah melalui Bupati. Meskipun semua peraturan telah diikuti oleh petani lokal, sangat disayangkan mereka masih harus membayar pajak 40%, bukan bebas pajak seperti yang dijanjikan oleh Pemerintah Belanda. yang lebih menyedihkan, para pejabat lokal yang korupsi justru merampok para petani dengan mencuri hasil panen mereka dan menjualnya sendiri kepada Pemerintah Belanda, membuat rakyat menderita karena tidak memiliki hasil panen yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
img1830
SEJARAH KAWISARI
1835 - 1870
1830
Sepanjang tahun 1835-1870, penduduk Jawa telah sangat lama menderita dari sistem Tanam Paksa. Banyak dari mereka yang mati kelaparan karena sebagian besar hasil panen mereka dinikmati oleh pejabat Bupati dan Pemerintah Belanda, tanpa memberikan keuntungan/ makanan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai gambaran antara tahun 1843-1848, sebanyak 216.000 orang meninggal di kabupaten Jawa akibat sistem Cultuur Stelsel. Sementara di daerah lain, sejumlah 89.000 orang dari sebuah populasi menyusut menjadi hanya 9.000 orang.
img1830
SEJARAH KAWISARI
1860s
1830
Pada tahun 1860-an, Edward Douwes Dekker (mantan Asisten Residen Lebak pada tahun 1856) dengan nama samaran - Multatuli (artinya: Saya sangat menderita), menulis buku berjudul Max Havelaar yang menceritakan tentang penindasan kaum miskin di Jawa oleh para Bupati. Pada saat yang sama di Belanda, parlemen Belanda sebagian besar dikuasai oleh anggota kelas menengah yang lebih peduli pada masalah hak asasi manusia. Sistem yang tidak manusiawi itu memicu parlemen Belanda untuk menghapus sistem Tanam Paksa dan menggantinya dengan hukum yang lebih beradab.
img1830
SEJARAH KAWISARI
1870s
1830
Cultuurstelsel secara resmi dihentikan pada tahun 1870, tetapi sistem ini masih dapat ditemukan di beberapa daerah meskipun ada larangan resmi. Untungnya, sistem ini benar-benar berakhir di tahun 1917. Kemudian pada tahun 1870, Agrarische Wet (UU Agraria) yang mengizinkan pendirian perkebunan swasta akhirnya telah diluncurkan. Pihak swasta diizinkan untuk menyewa tanah milik pemerintah Belanda dengan status sewa selama 75 tahun. Sistem ini disebut Erfpacht. Selanjutnya, pemerintah juga dapat menyewa tanah dari orang-orang lokal selama 20 tahun. Hal ini mendorong Perkebunan Kawisari resmi membentuk badan hukum pada tahun 1870.
previous arrow
next arrow
IMG1830
SEJARAH KAWISARI
1830
Pada tahun 1830, pemerintah Belanda memberlakukan sistem baru Tanam Paksa (Cultuur stelsel) di bawah komando Gubernur Jenderal van den Bosch pada tahun 1830-1835. Pada saat itu, Belanda menuntut 20% dari tanah rakyat untuk ditanami komoditas ekspor (kopi, gula, lada), menggantikan tanaman tradisional seperti padi, singkong & jagung. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki tanah, mereka harus menjadi pekerja paksa di ladang milik pemerintah selama 66 hari dalam setahun.

Namun, pejabat lokal di wilayah itu secara tidak sah memaksa para petani pemilik tanah untuk menanam seluruh perkebunan mereka untuk komoditas ekspor dan hasil panen harus dijual kepada pemerintah Belanda dengan harga murah melalui Bupati. Meskipun semua peraturan telah diikuti oleh petani lokal, sangat disayangkan mereka masih harus membayar pajak 40%, bukan bebas pajak seperti yang dijanjikan oleh Pemerintah Belanda. yang lebih menyedihkan, para pejabat lokal yang korupsi justru merampok para petani dengan mencuri hasil panen mereka dan menjualnya sendiri kepada Pemerintah Belanda, membuat rakyat menderita karena tidak memiliki hasil panen yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
IMG1830
SEJARAH KAWISARI
1835
Sepanjang tahun 1835-1870, penduduk Jawa telah sangat lama menderita dari sistem Tanam Paksa. Banyak dari mereka yang mati kelaparan karena sebagian besar hasil panen mereka dinikmati oleh pejabat Bupati dan Pemerintah Belanda, tanpa memberikan keuntungan/ makanan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagai gambaran antara tahun 1843-1848, sebanyak 216.000 orang meninggal di kabupaten Jawa akibat sistem Cultuur Stelsel. Sementara di daerah lain, sejumlah 89.000 orang dari sebuah populasi menyusut menjadi hanya 9.000 orang.
IMG1830
SEJARAH KAWISARI
1860s
Pada tahun 1860-an, Edward Douwes Dekker (mantan Asisten Residen Lebak pada tahun 1856) dengan nama samaran - Multatuli (artinya: Saya sangat menderita), menulis buku berjudul Max Havelaar yang menceritakan tentang penindasan kaum miskin di Jawa oleh para Bupati. Pada saat yang sama di Belanda, parlemen Belanda sebagian besar dikuasai oleh anggota kelas menengah yang lebih peduli pada masalah hak asasi manusia. Sistem yang tidak manusiawi itu memicu parlemen Belanda untuk menghapus sistem Tanam Paksa dan menggantinya dengan hukum yang lebih beradab.
IMG1830
SEJARAH KAWISARI
1870s
Cultuurstelsel secara resmi dihentikan pada tahun 1870, tetapi sistem ini masih dapat ditemukan di beberapa daerah meskipun ada larangan resmi. Untungnya, sistem ini benar-benar berakhir di tahun 1917. Kemudian pada tahun 1870, Agrarische Wet (UU Agraria) yang mengizinkan pendirian perkebunan swasta akhirnya telah diluncurkan. Pihak swasta diizinkan untuk menyewa tanah milik pemerintah Belanda dengan status sewa selama 75 tahun. Sistem ini disebut Erfpacht. Selanjutnya, pemerintah juga dapat menyewa tanah dari orang-orang lokal selama 20 tahun. Hal ini mendorong Perkebunan Kawisari resmi membentuk badan hukum pada tahun 1870.
previous arrow
next arrow

Filosofi Kawisari

Logo Kopi Kawisari melambangkan suatu tradisi yang kokoh dari ratusan penduduk desa yang sederhana dan hidup dari hasil memelihara perkebunan Kopi Kawisari. Penduduk Jawa hidup dalam komunitas yang sangat menjaga sikap kekeluargaan, di mana seluruh prinsip mereka yang paling berharga dipegang teguh selama bertahun-tahun hingga hari ini: kebersamaan, kesederhanaan, dan sampai sekarang.

Kopi Kawisari sangat berperan besar dalam hal ini; dimulai subuh perkebunan, sebelum matahari terbit, dengan aroma semerbak yang khas dari secangkir kopi Kawisari yang mengepul panas. Menemani istirahat di siang hari yang penuh warna dengan canda, pantun, gelak tawa, dan saling bersenda gurau sambil menyeruput secangkir kopi panas Kawisari. Dan ketika hari mulai petang, saatnya untuk melepas penat dengan saling bercengkrama menikmati pemandangan megah yang membentang luas di sekitar rumah mereka, menyeruput kopi Kawisari yang nikmat sembari mengawasi anak-anak & ternak mereka berlarian bebas.

Seperti inilah kehidupan yang kami jalani sejak berabad-abad lalu. Inilah tempat bahagia kami dimanapun kami berada, ketika kita memejamkan mata, ketika menghirup aroma kopi Kawisari serta tegukan pertama kita. Sekarang, tempat bahagia ini juga bisa menjadi Anda nikmati juga.  

Sejarah Singkat

Perkebunan ini didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 ketika Belanda mencabut peraturan penanaman paksa, menjadikan perkebunan Tugu Kawisari sebagai perkebunan kopi tertua di Jawa Timur. Perkebunan ini menghasilkan jenis kopi Arabika dan Robusta terbaik yang dikembang biakkan selama masa kolonial Belanda, serta ada juga kopi luwak terbaik. Rasa dari kopi Jawa yang dikenal sebagai jenis WIB ini sangat unik dan khas, dengan tingkat keasaman seimbang dan body yang seakan membawa warisan sejarah, tanah, serta usia perkebunan yang megah ini. Letusan Gunung Kelud di masa lalu juga telah banyak berkontribusi pada karakter indah dari biji kopi artisan yang dihasilkan di perkebunan ini.

Proses produksi

Kopi dari Tugu Kawisari diproses dengan pengawasan dan kontrol ketat oleh konsultan dan para ahli kopi, memastikan buah ceri kopi dipanen pada waktu yang tepat. Buah ceri kopi yang merah matang sempurna dipetik dengan metode pemetikan secara manual, sedangkan buah yang masih berwarna kuning dan hijau dibiarkan tetap berada di cabang hingga matang dengan sempurna. Di kebun kami, biji kopi diproduksi melalui metode pemanggangan kayu tradisional atau diselesaikan di bawah kendali teknologi modern untuk menghasilkan kualitas kopi terbaik.

Proses produksi

Kopi dari Tugu Kawisari diproses dengan pengawasan dan kontrol ketat oleh konsultan dan para ahli kopi, memastikan buah ceri kopi dipanen pada waktu yang tepat. Buah ceri kopi yang merah matang sempurna dipetik dengan metode pemetikan secara manual, sedangkan buah yang masih berwarna kuning dan hijau dibiarkan tetap berada di cabang hingga matang dengan sempurna. Di kebun kami, biji kopi diproduksi melalui metode pemanggangan kayu tradisional atau diselesaikan di bawah kendali teknologi modern untuk menghasilkan kualitas kopi terbaik.

Penduduk Kawisari

Perkebunan Kopi Tugu Kawisari dikelola oleh penduduk desa sekitar yang kental dengan tradisi dan spiritualitas yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun. Penduduk setempat sangat percaya bahwa perkebunan adalah tempat khusus yang selamanya dilindungi oleh para Dewa, dan tempat ini merupakan lokasi kerajaan Lembu Suro dan Mahesosuro. Perkebunan itu juga dipercaya sebagai perhentian terakhir para raja dan pangeran sebelum mencapai tempat pertapaan Gunung Kawi yang keramat, di mana mereka harus membersihkan diri dari dosa duniawi sebelum menghadap ke para dewa-dewanya.

Keaslian Kawisari

Kopi yang dihasilkan di Perkebunan Kopi Tugu Kawisari benar-benar unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Perkebunan kami menumbuhkan sekitar 20 spesies biji Kopi Robusta jenis longberry dan Arabika yang unik yang hanya di punyai perkebunan Tugu Kawisari dan jumlahnya meningkat setiap tahun berkat banyaknya lebah madu yang menjadikan perkebunan kami yang rimbun sebagai rumahnya. Lebah-lebah tersebut telah berhasil melakukan penyerbukan silang bunga kopi dari spesies yang berbeda dan menciptakan penggandaan kopi yang hanya bisa dijumpai di Perkebunan Kopi Tugu Kawisari. Menyeruput secangkir kopi artisan Kawisari berarti mencicipi keajaiban dari kolaborasi alam semesta.

Keaslian Kawisari

Kopi yang dihasilkan di Perkebunan Kopi Tugu Kawisari benar-benar unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Perkebunan kami menumbuhkan sekitar 20 spesies biji Kopi Robusta jenis longberry dan Arabika yang unik yang hanya di punyai perkebunan Tugu Kawisari dan jumlahnya meningkat setiap tahun berkat banyaknya lebah madu yang menjadikan perkebunan kami yang rimbun sebagai rumahnya. Lebah-lebah tersebut telah berhasil melakukan penyerbukan silang bunga kopi dari spesies yang berbeda dan menciptakan penggandaan kopi yang hanya bisa dijumpai di Perkebunan Kopi Tugu Kawisari. Menyeruput secangkir kopi artisan Kawisari berarti mencicipi keajaiban dari kolaborasi alam semesta.

Organik & Keberlanjutan

Perkebunan Kopi Tugu Kawisari berkomitmen untuk melestarikan alam Gunung Kawi yang masih alami beserta lingkungan sekitarnya. Sekitar 850 hektar (90%) dari seluruh area perkebunan telah menerima sertifikasi organik nasional – Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS  ) – dengan penggantian 100% semua pupuk kimia dengan kotoran sapi dan kompos. Hal ini menjadikan Perkebunan Kopi Kawisari sebagai penghasil kopi organik terbesar di tanah air.

The Legend Of Kawisari Slider - 1
The Legend Of Kawisari
Menurut cerita rakyat setempat, lokasi Perkebunan Kopi Kawisari di Gunung Kelud saat ini dibangun di atas kerajaan - dipimpin oleh seorang raja yang sangat dicintai dengan tampilan tubuh manusia dan kepala kerbau - Raja Lembu Suro.

Suatu hari, Raja Lembu Suro jatuh cinta dengan Dewi Kilisuci - seorang putri dari kerajaan tetangga, Jenggolo Manik, dan melamarnya. Sang Putri, yang tidak mau menikah dengannya, mengajukan dua tantangan sebagai syarat pernikahan mereka: Pertama, Dewi Kilisuci harus menjadi penguasa Gunung Rinjani, dan kedua, lahar Gunung Kelud dan Gunung Rinjani harus bertemu bersama di bawah perintah mereka.
The Legend Of Kawisari Slider - 2
The Legend Of Kawisari

Sang Raja menerima tantangan tersebut dan menghadiahi Dewi Kilisuci Gunung Rinjani. Baik raja dan putri sepakat untuk meletuskan Gunung Rinjani dan Kelud pada hari yang sama sebagai saksi cinta mereka di hadapan alam. Namun, satu malam sebelum hari yang dijanjikan, Ratu Rinjani meletuskan Gunung Rinjani terlebih dahulu, berharap Raja Lembu Suro yang tidak sadar tidak akan meletuskan Gunung Kelud pada saat yang bersamaan. Dalam sekejap mata, lahar panas Rinjani telah mencapai lereng Gunung Kelud - namun gunung tersebut tetap tak bergerak.

Untungnya, Sang Hyang Jagadnata (penguasa seluruh alam), mengingatkan Raja Lembu Suro tentang tipu daya Dewi Kilisuci dan Gunung Kelud langsung meletus di bawah kekuasaan raja. Akhirnya lava kedua gunung ini tidak membutuhkan waktu lama untuk bertemu sehingga pernikahan antara Raja Lembu Suro dengan Dewi Kilisuci menjadi kenyataan. Sebagai hukuman atas tipu daya-nya, kepala Dewi Kilisuci diubah menjadi kepala kuda. Pasangan itu memiliki seorang putri yang dikenal sebagai Dewi Yogini - seorang putri dengan kepala sapi dan tubuh manusia yang kokoh. Setelah Raja Lembu Suro meninggal, putri dan istrinya memindah lokasi kerajaannya bertempat dilokasi bertemunya lava Gunung Rinjani dan Kelud - Kawisari.
Untuk memperingati pernikahan orang tuanya, Dewi Yogini ( juga dikenal sebagai Ratu Sang Hyang Kambing) berjanji untuk menjaga kedua gunung tetap aktif sampai akhir dunia. Inilah alasan mengapa Gunung Kelud dan Gunung Rinjani tidak pernah berhenti meletus hingga saat ini.

previous arrow
next arrow
The Legend Of Kawisari Slider - 2

Menurut cerita rakyat setempat, lokasi Perkebunan Kopi Kawisari di Gunung Kelud saat ini dibangun di atas kerajaan - dipimpin oleh seorang raja yang sangat dicintai dengan tampilan tubuh manusia dan kepala kerbau - Raja Lembu Suro.

Suatu hari, Raja Lembu Suro jatuh cinta dengan Dewi Kilisuci - seorang putri dari kerajaan tetangga, Jenggolo Manik, dan melamarnya. Sang Putri, yang tidak mau menikah dengannya, mengajukan dua tantangan sebagai syarat pernikahan mereka: Pertama, Dewi Kilisuci harus menjadi penguasa Gunung Rinjani, dan kedua, lahar Gunung Kelud dan Gunung Rinjani harus bertemu bersama di bawah perintah mereka.

The Legend Of Kawisari Slider - 2

Sang Raja menerima tantangan tersebut dan menghadiahi Dewi Kilisuci Gunung Rinjani. Baik raja dan putri sepakat untuk meletuskan Gunung Rinjani dan Kelud pada hari yang sama sebagai saksi cinta mereka di hadapan alam. Namun, satu malam sebelum hari yang dijanjikan, Ratu Rinjani meletuskan Gunung Rinjani terlebih dahulu, berharap Raja Lembu Suro yang tidak sadar tidak akan meletuskan Gunung Kelud pada saat yang bersamaan. Dalam sekejap mata, lahar panas Rinjani telah mencapai lereng Gunung Kelud - namun gunung tersebut tetap tak bergerak.

Untungnya, Sang Hyang Jagadnata (penguasa seluruh alam), mengingatkan Raja Lembu Suro tentang tipu daya Dewi Kilisuci dan Gunung Kelud langsung meletus di bawah kekuasaan raja. Akhirnya lava kedua gunung ini tidak membutuhkan waktu lama untuk bertemu sehingga pernikahan antara Raja Lembu Suro dengan Dewi Kilisuci menjadi kenyataan. Sebagai hukuman atas tipu daya-nya, kepala Dewi Kilisuci diubah menjadi kepala kuda. Pasangan itu memiliki seorang putri yang dikenal sebagai Dewi Yogini - seorang putri dengan kepala sapi dan tubuh manusia yang kokoh. Setelah Raja Lembu Suro meninggal, putri dan istrinya memindah lokasi kerajaannya bertempat dilokasi bertemunya lava Gunung Rinjani dan Kelud - Kawisari.

Untuk memperingati pernikahan orang tuanya, Dewi Yogini ( juga dikenal sebagai Ratu Sang Hyang Kambing) berjanji untuk menjaga kedua gunung tetap aktif sampai akhir dunia. Inilah alasan mengapa Gunung Kelud dan Gunung Rinjani tidak pernah berhenti meletus hingga saat ini.

previous arrow
next arrow

Artisan Coffee

The Java Bakery

Honey, Spreads & Jams

TERBARU DI INSTAGRAM KAMI

Tetap Terhubung dengan Kami

© Kawisari Coffee Plantation